Blogger Template by Blogcrowds and Blogger Styles

.

Lombok's Shopping Advice

Well, sesuai dengan judulnya, post ini akan sedikit bercerita tentang pengalaman berbelanja gw di Lombok. Yaah harapannya bisa jadi "guide" bagi siapapun yang baca, barangkali ada yang mau ke Lombok terus punya rundown acara seperti gw, lebih baik bersabar, karena orang sabar akan dapat barang bagus dengan harga murah hhohho.

Lombok terkenal dengan mutiaranya, katanya kualitas mutiara sini sebanding dengan Australia, cuma kalah di ukuran aja, mutiara Lombok lebih kecil (katanya gw belum ngebandingin antara mutiara Lombok dengan Australia sih). Berternak (bener gg ya istilahnya) mutiara itu seperti membesarkan bayi, gg boleh salah, seperti kata iklan, buat anak kok coba-coba, nah si kerang mutiara ini butuh perlakuan khusus untuk bisa hidup dan menghasilkan mutiara.

Nah untuk berbelanja mutiara di Lombok, disarankan untuk langsung datang ke toko yang memang punya integritas dalam menyediakan mutiara yang asli. Kemarin gw mengunjungi toko yang menjual dua jenis mutiara, yakni mutiara air tawar dan air laut, apa bedanya ? celetuk gw, nah kata temen gw sih perbedaannya itu kalau mutiara air tawar itu lebih cepet prosesnya, klo mutiara air laut lamaaa #CMIIW. 

Guide gw menyarankan untuk tidak membeli mutiara di pedagang asongan. Karena "mutiara" itu didatangkan dari Jawa berkarung-karung, lalu dirangkai menjadi berbagai jenis perhiasan. Dari segi harga memang yang dijual pedagang asongan lebih murah, tapi silahkan memilih, harga tidak pernah bohong cyin.

Ngomong-ngomong soal mutiara, Lombok juga terkenal dengan "mutiara hijaunya" alias tembakau. Katanya Lombok menghasilkan tembakau berkualitas tinggi, namun sayangnya belum ada pabrik rokok yang tertarik untuk berinvestasi di tanah Lombok, tembakau-tembakau ini akan dibawa lagi ke tanah Jawa.

Nah kalau cari mutiara asli dan berkualitas kan sebaiknya tidak di pedagang asongan, kalau cari kaos, gantungan kunci dan gelang khas Lombok lebih baik di pedagang asongan. Jadi gini ceritanya, dari sejak datang ke Lombok, kami diwanti-wanti sama guide jangan beli kaos dari pedagang asongan, itu bahannya jelek, tipis dan sablonannya cepet luntur, nanti kalau mau beli kaos di toko saja. Memang benar, pagi pertama di Lombok, di depan hotel kami sudah ada pedagang asongan menawarkan dagangannya, gw kan gg tegaan gitu ya, bawaannya pengen beli, tapi ingat kata guide yowes sabaaar.

Pas malamnya, kami datang ke toko yang menjual kaos macam Joger gitu lah, harganya muraaaah sekali hanya dari Rp 20.000 saja, wah kalap saja sodara-sodara. Pas sampai di hotel, kaosnya dicoba tipis sekali, bahkan ada satu yang gw kasih ke Surilay dan gw suruh tebak harganya, dia bilang masa Rp 10.000an -_-' harganya sama kayak semangkok bakso. 

Nah pagi kedua sekaligus terakhir di Lombok, pedangan asongan membanjiri trotoar halaman hotel, menawarkan dagangannya, gw makin gg tegaa dan berpikir, "Kalau gw gg beli, terus mereka bangkrut dan jadi pencuri, salah gw dong!", makin down-lah gw apalagi setelah mengobrol dengan dosen yang berujar, "Sebaiknya beli kaos itu ya di pedagang kecil ini saja, toh harganya sama, bahannya juga sama, tapi perbedaannya adalah kita membantu memberdayakan para pedagang kecil ini, klo beli di toko ya yang kaya makin kaya, yang miskin makin sengsara!". Dan memang bahannya sama, jadi kalau mau beli kaos murah dalam jumlah banyak ya lebih baik di pedagang asongan saja, nah cari bahan dan sablonan yang bagus, silahkan ke toko, karena di toko itu juga menyediakan kaos kualitas bagus dari harga Rp 85.000, lagi-lagi harga gg bohong cyiin.

Surilay : Aku mau syal tenun dong, buat hiasan tas. Gw :Mahal coy, 50ribu gg dipake, gg usah ya hhohho
Lanjut kain tenun dan songket, di toko kaos dan pedagang asongan juga menjajakan kain songket dan tenun ini, hanya saja lagi-lagi ini didatangkan dari Jawa dan dibuat menggunakan mesin. Jadi kami dibawa ke desa penenun. Dimana semua anak gadis di desa ini harus bisa menenun sebagai salah satu syarat jika ingin menikah, mempersembahkan kain tenunannya kepada sang calon suami, jadi mereka belajar sejak usia tujuh tahun.

Gaya alay berlatarkan kain tenun dan topi yang dijual hhahha~
Di desa (yang entah apa namanya hhahha gw tidur sepanjang perjalanan soalnya) ini jadi kami datang ke koperasinya, tapi yang aneh ya, itu kan koperasi yang menampung hasil tenun di desa itu untuk penyemarataan harga tapi kok sepanjang perjalanan masih banyak rumah yang menyediakan dan menjual tenunnya ini. Gw sih gg beli, gg tertarik juga harganya mahal dan gw gg tau fungsi kain itu kalau gw beli jadi cuma foto-foto.

"mbak, tiga sepuluh ribu gelangnya"
Sesudahnya kan kami ke desa Sade, nah disini juga menjual kain songket dan tenun ikat yaaaang jauh lebih murah dibanding di koperasi tadi dan masih bisa ditawar pula. Disini gw baru tertarik untuk beli kain untuk mama, tapi Janggut Merlin sekali, gw kagak bawa cash hhuhhu dan temen-temen gw juga cash-nya udah habis hhuhhu jadinya gg beli deh. Tapi sepertinya gw memang harus kembali ke Sade, karena payung gw ketinggalan di sana hhahha~ musti diambil kan sekalian bisa beli kain hhohho~.
well, begitu sih saran gw klo mau berbelanja di Lombok. Tapi dimanapun akan berbelanja, sebuah pengingat untuk diri sendiri, mari usahakan memberdayakan pedagang kecil.
xxxChuu original by ra~ccon

Lombok, Will You Marry Me?

Well, sepertinya gw sedang dalam mood untuk melanjutkan cerita perjalanan Kuliah Kedok Liburan KKL gw. Pertama untuk menjawab pertanyaan Tante Lyli, apakah gw ngikut nyebur di tengah ? oh ya tentu, kebetulan karena gw akhir-akhir ini sering berenang dan sudah bisa water trap ("memerangkap" air, jadi mempertahankan tubuh di permukaan air dengah bantuan gerakan tangan dan kaki seperti berenang gaya katak tapi posisi vertikal, tapi kalau pake fin (kaki katak) gerak kakinya seperti berenang gaya bebas) ditambah kalau di laut memang lebih mudah untuk mengambang, gw pun ke tengah menggunakan kapal glass bottom hemat Rp 50.000 karena gw gg sewa alat alias bawa sendiri hhohho.

Jadi awalnya dari kaca kapal gw kira dasarnya deket tuh ya, mau loncat dari kapal gw takut nyampe dasar dan ngerusak terumbu karangnya yang udah rusak, eh ternyata jauuuuh mah, ada kali lima meter yang terdangkalnya. Gw pun gg pake pelampung, karena geraknya berasa lebih terbatas, lagipula pelampungnya gg ada yang layak -_-', pelampung atau jemuran tuh, lecek banget. Ditambah gw juga memang pengen mengaplikasikan latihan selama ini di kolam renang hhehhe.

Dari GT, hari sudah semakin sore dan kami pun harus bergegas untuk memenuhi acara-acara selanjutnya. Lagi enak-enak tidur, ehlala dibangunin karena sampai di toko mutiara, duh gg ada minat banget dah gw untuk masuk, gg ada duit soalnya. Tapi karena penasaran, gw masuk juga, eh bener aja deh cuma lirik-lirik sedikit langsung keluar lagi, ciih jajanan ibu-ibu ini mah hhohho. Selanjutnya kami ke toko oleh-oleh khas Lombok, ada serba makanan olahan dari rumput laut, berbagai jenis madu dan susu kuda liar. Penasaran sih sama rasanya susu kuda liar, tapi gw takut setelah minum jadi makin liar, raaawr #jayuz.

Detik-detik Anarkisme
Selanjutnya kami mengunjungi toko pakaian, wah menggila dah disini, murah coy. Sudahnya makan malam deh di Gedung PKK lagi, menunya ikan goreng bumbu dan sate pesut (semacam sate lilit), enaaaaak deh. Nyampe hotel, tepaar. Tapi musti bangun untuk nyuci alat (setiap alat yang sudah masuk laut harus dibilas pake air tawar, biar gg cepet rusak) dan mandi tidak lupa pintunya tetep dibuka hhohho. Tapi acara malam ini belum kelar, masih ada makrab cyiiin, duuh kapan kelarnya nih hhohho.
Yihaa ... Bergaya ala perempuan suku sasak
Paginya kami packing, karena hari itu harus check out dari hotel dan hari terakhir di Lombok. Yang tadinya cuma bawa ransel dan tas selendang kecil, ehlala jadi nambah dua kantong plastik besar duuh. Tujuan pertama itu ke desa penghasil tenun. Disitu gw mah sibuk foto-foto hhahha. Kan boleh foto sambil belaga nenun gitu ya, nah gw narik salah satu bambu motifnya, daaan ibunya langsung panik karena rancangan motifnya jadi rusaakk, muheee gw langsung minta maaf, ampppuuun dah ni tangan gg bisa nyeni dikit.


Dari situ, kami lanjut ke Desa Suku Sasak Sade dengan andalannya mengepel pakai kotoran kerbau atau sapi ya lupa gw, dapet tur keliling desa, duuh suku ini masih mengupayakan desanya tetep tradisional gitu. Perjalanan kemudian lanjut lagi, cepet yaa, emang hari kedua di Lombok ini serba cepet. Selanjutnya Pantai Kuta, di Lombok juga ada pantai Kuta yang tetep dibacanya juga Pantai Kute, yang pasti Kute yang ini lebih kece badai dibanding Kute yang di Bali.


Tapi panasnyaaa luar biasa sekali, positifnya hasil foto jadi bagus sih cuma jadi ada titik putih di foto apa itu namanya, lupa lah gw istilahnya, baru sekali denger juga soalnya hhohho. Daaan berakhirlah perjalanan gw di Lombok, cuuus langsung perjalanan pulang deh. Nah gg enaknya ya ini nih, di bus selama kurang lebih 28 jam, maknyuuus, capek tidur gw. Tapi kalau ditanya lagi, Tiara mau ke Lombok ? of courseeee dong, pindah juga gpp deh hhahha~.
xxxChuu original by ra~ccon.

Lombok, I'm in Love

Adududuh cerita di Lomboknya kepending lama juga ya hhehhe, maklum udah mau akhir semester jadi ngejar tanggungan tugas dulu hhohho #ngeles. Nah hari pertama di Lombok, gw dibangunin pagi-pagi sama Syifa yang sekamar sama gw. Duh gw males banget, tapi agenda pertama pagi itu adalah kami mau ke Pantai Senggigi yang supeeer sekali ada di seberang hotel kami. Setelah adegan gw tidur lagi dengan alasan sambil ngantri kamar mandi, kami pun berangkat. Jadi hari itu gw gg mandi pagi, tumbeeen banget dah, soalnya gw takut hhahha kamar gw tuh auranya serem gitu, udah mana semaleman banyak suara binatang, ya gw kagak berani deh mandi subuh hhohho lagian kan agenda hari itu juga mau snorkeling-an ya ngapain mandi kali ya hhohho #ngeles lagi.

Senggigi di Pagi Hari
Ternyata di pantai udah banyak temen-temen gw. Padahal gw kira gw yang pertama bakal datang, tapi emang rombongan gw doang yang udah pada mandi. Duh senengnya pagi-pagi udah ke pantai yang kece punya, bersih dan sepi. Jadi awalnya gw dan temen-temen itu mau liat matahari terbit makanya bangun pagi sekali, terus sadar pas sholat subuh klo hotel kami ngehadap ke barat alias ke pantai, hlaaa ya mana ada acara liat matahari terbitnya.

Gw-yang-belum-mandi-pagi-tapi-berasa-langsing di Senggigi
Puas menikmati keindahan dan foto-foto di pantai-berasa-pribadi ini. Kami kembali ke hotel untuk sarapan daaaan pengen gw cium ini hotelnya, makanannya friendly sama gw terlebih lagi bisa ambil sendiri. Gw memutuskan makan roti bakar aja pake selai, butter dan buah hhuhhu pengen nangis gw saking bahagianya, ini makanan layak kedua yang gw makan selama perjalanan.

I want to move to this island #ngareeep
Selesai sarapan, kami semua masuk bis, karena tujuan utama hari ini adalah Gili Trawangan (GT), hip hip huraaay. Sepanjang perjalanan kan kami menyisiri pantai, wuiiih keren banget dah Lombok, pantai dan lautnya itu loooh bener-bener bikin ngiler buat nyemplung. Pemandangan yang indah di sisi kiri jalan, membuat gw berdiri sepanjang perjalanan, jadinya gw muaal soalnya jalanannya itu looh berkelak-kelook #pyuuh. Nah pas di puncak ada tempat namanya Bukit Malimbu #CMIIW daaaan kami bisa liat pemandangan sisi barat pulau Lombok yang ciamik tenan, ketiga gili juga terlihat loooh, adududuh pingsan di tempat nih gw saking indahnya itu tempat.
Bukit Malimbu, aslinya lebih indah

Belum puas menikmati keindahan dari Bukit Malimbu ini, kami melanjutkan perjalan ke terminal penyebrangan ke GT. Jadi bis kami cuma sampe terminalnya, untuk sampai ke dermaga bisa naik cidomo (delman) seharga Rp 15.000 - Rp 25.000 per empat orang. Tapi kalau jalan juga enggak terlalu jauh kok, cumaa buat yang bawa skin dive kayak gw itu cukup repot juga berjalan kaki.

Dari dermaga Lombok ke GT cuma menghabiskan waktu kurang lebih 20 menitan. Untuk menyeberang bisa carter kapal seharga kurang lebih Rp 250.000an atau ngikut kapal penumpang, hmm klo gg salah itu Rp 15.000 ribu sekali jalan. Mendekati GT duuuh bener aja gw udah pengen nyemplung, airnya itu warnanya biru turqoise, jadi jernih sekali sampai dasarnya pun terlihat. GT ini menarik sekali, di sini tidak ada motor, kucing dan anjing juga mengurangi penggunaan plastik (begitu kata plangnya), yang baru gw sadari saat gw beli burger cuma dibungkus pake kertas tissue.

Airnyaa .... wajar kan klo pengen nyempluung
Jalanannya cukup ramai, orang asing maupun pribumi lalu lalang. GT ini kesannya gimana ya, rame dan modern tapi entah kenapa gw berasa masih ada sentuhan eksotisnya. Nah, akhirnya kami tiba di basecamp rombongan. Langsung ganti pakaian untuk nyebur. Jadi snorkeling di GT itu setelah pinjem alatnya bisa langsung nyebur dari pantai. Sewa alat lengkap (masker, snorkel dan fin) sama pelampung cuma Rp 60.000. Di dekat pantai memang sudah bisa snorkeling-an, kedalaman air sekitar dua meter. Ada banyak ikan disini dan karang juga tentunya, meskipun sayangnya terumbu karang di GT kebanyakan sudah mati, dikarenakan sekitar tahun 1990an sebelum diterbitkannya awig-awig (peraturan adat lokal), para nelayan mencari ikan dengan cara di bom.

di GT ada penangkaran penyu juga loooh
Kurang puas main di pantai, gw pun pengen berenang ke tengah. Tinggal bayar Rp 50.000 lagi untuk lebih ke tengah menggunakan kapal glass bottom, ituloh kapal yang ada kaca di dasarnya, jadi kita bisa liat ke bagian bawah kapal. Karena perairan GT yang jernih, jadi kami bisa melihat melalui kaca tersebut, perairan dangkal, agak dalam, dalam sampai akhirnya tidak terlihat dasarnya, hiiiy membuat gw merasa kecil sekali.
Di mobil colt, menertawakan kebodohan. Ceritanya nebeng tapi kaki gw ketinggalan sebelah hhahha
Di tengah, sejarah hamparan terumbu karang menyambut kami, sedih sekali melihat bahwa dahulu pernah ada hamparan terumbu karang yang mungkin amat sangat cantik. Gw gg lama snorkeling-annya karena sebuah alasan yang ndesoo, gw mabok laut hhahha dan kami pun kembali ke GT untuk selanjutnya bilas dan kembali ke Lombok. Acara masih banyak cyiin.
xxxChuu original by ra~ccon.

Aloha ... akhirnya gw berhasil mengumpulkan kekuatan untuk menulis kelanjutan cerita liburan KKL gw. Jadi gw itu di Bali dari tanggal 14 - 16 Mei 2013, mengunjungi pecalang merupakan agenda terakhir di Bali karena setelahnya kami langsung menyeberang dari Pelabuhan Padang Bai, Bali menuju Pelabuhan Lembar, Lombok yang memakan waktu kurang lebih empat jam.
Penampakan perairan di Pelabuhan Padang Bai, Bali
Pengalaman gw naik kapal ya pas ke Karimun Jawa itu, dan demi Janggut Merlin, rasanya frustasi banget, karena gw termasuk yang lemah perut jadi menghabiskan perjalanan dengan tidur yang tidak nyaman dan melelahkan, kenapa melelahkan ? karena tiap kali gw bangun, masih aja lautan, pyuuh, daratannya mana daratan. Jadi gg mau mabuk laut lagi, gw memutuskan untuk minum antimo sejak sebelum naik kapal. 
Next destination : Lombok
Ternyata kapalnya lebih lumayan dibanding KMP Muria, meski demikian, kami milih naik ke lantai paling atas untuk bisa menikmati pemandangan, well gw sih cari lapak buat selonjoran hhohho karena berdasarkan testimoni orang-orang yang bolak-balik Karimun Jawa pake kapal-dengan-kecepatan-siput-hamil itu akan lebih nyaman apabila posisi tubuh berbaring jadi gw asumsikan teori itu juga berlaku untuk perjalanan Bali - Lombok.

Eaaa ... yang pada tepar
Jadi setelah puas memandangi perairan di pelabuhan Padang Bai yang biking ngiler pengen nyemplung saking beningnya, kapal pun mulai bergerak menjauhi pelabuhan dan kantuk pun menyerang, menandakan si obat mulai bereaksi. Nah pas gw dan temen-temen tidur, ngampar gitu udah berasa gembel banget dah, karena sebenarnya ada ruang-ruang ABK yang disewakan, Rp 50.000/kamar, tapi sayang aja pikir gw waktu itu, ngampar juga masih bisa. Ternyata eh ternyata, bahkan dalam keadaan sedang tidur pun goncangan kapal amat terasa, goncangannya cukup besar namun dengan ritme yang lebih pelan, dalam keadaan terlelap gw memaksa untuk lebih terlelap lagi karena gw mulai ngerasa mabuk laut, aneh juga bisa mabuk laut dalam posisi tidur.

"Ini kapan nyampenya ya?"
Perjalanan Bali - Lombok ini berasa diberi harapan palsu, karena sepanjang perjalanan dimana gwnya tidak tidur, daratan tuh selalu terlihat, bikin kesel karena kok gg merapat-merapat gitu. Oh ya di perjalanan juga gw melihat ikan terbang loooh dua pula hhehhe. Nah akhirnya sekitar magrib, kapal kami merapat di Lembar, langsung naik bis lagi untuk makan malam.

Pelabuhan Lembar
Ternyata Lombok berbeda jauh dengan apa yang gw bayangkan sebelumnya, dalam bayangan gw, Lombok itu kayak Indonesia tahun 1945an hhohho kurang ajar yaak tapi ya dalam bayangan gw di Lombok itu masih tradisional, nyatanya ada SPBU dan Indomaret, hhahha dasar anak pulau Jawa ya. Tapi kesannya masih sepi dan jalanan yang gw lewati itu cenderung gelap. Yang menakjubkan kami makan di gedung PKK loh, tapi makanannya berlimpah dan bisa ambil sepuasnya, menunya ayam-entah-bumbu-apa-tapi-prediksi-kami-itu-ayam-taliwang, plencing kankung yang mirip-mirip urab pake sambel khas Cirebon, ini merupakan makanan terenak dan terbanyak yang gw makan selama perjalanan.
Hijau dan emas, siapa coba yang gg keingetan sama Nyi Roror Kidul -_-'
Setelahnya kami menuju hotel, hotel kami itu berhadapan dengan Pantai Senggigi looh namanya Puri Bunga, lumayan bagus hotelnya, berasa hotel banget deh cumaaa kamarnya itu loooh, kenapa oh kenapa ornamennya mengingatkan gw pada Nyi Roro Kidul huwaaa untuk pertama kalinya seumur hidup gw ke hotel, baru kali itu gw ngerasa takut sampe mandi pun gg gw tutup pintunya. Nah sepanjang malam itu banyak terdengar suara hewan, sampai gw berasumsi apa di belakang kamar gw itu tempat penjagalan, Janggut Merlin sekali kan. Well kayaknya udah kepanjangan, cerita jalan-jalan di Lomboknya lanjut besok-besok aja hhohho. xxxChuu original by ra~ccon.
 

Halo ... halo, kemarin gw baru dari Bali dan Lombok looh. Jadi tanggal 13 - 19 Mei 2013 itu angkatan gw melakukan KKL, alias Kuliah Kedok Liburan Kuliah Kerja Lapangan. Well, Bali kayaknya biasa aja kali ya, karena ke Bali ini gw bisa dibilang wisata belanja, ekstrimnya temen gw bilang kalau kita turun bis hanya untuk tidur, makan dan ngabisin duit. Karena "kuliahnya" ini cuma kunjungan ke Kantor Bupati Kabupaten Gianyar dan studi banding ke Prodi Administrasi Negara Universitas Udayana

Bus gw yang ber-dress code merah
Di Bali, gw mengunjungi Pantai Kuta (dibacanya Pantai Kute) dan bertarung hidup mati untuk bernafas di Joger Kuta. Terus nongkrong di Tanjung Benoa, ngeliatin yang asik main jetski dan water sport lainnya. Jadi sebenernya gw ini udah bawa skin dive ( fin, masker dan snorkel) untuk snorkeling-an, tapiiii biayanya liat di internet aja 250ribu/40 menit, mahal gila cuma snorkeling-an doang. Lagian gara-gara kurang tidur dan kecapean, mood gw gg begitu enak, yah yasudahlah menikmati pemandangan manusia yang berbahagia saja hari itu.

Ketua HMJ AN-nya kharismatik sekali (tampan pula hhohho)
Sedihnya lagi selama seminggu perjalanan gw kurang makan hhuhhu. Secara gw yang rewel soal makan ini tidak bisa difasilitasi, perjalanan naik gunung menjadi lebih nikmat kalau begini caranya, karena tiap mau ke lapangan, saat pembahasan konsumsi, makanan yang tidak disukai seseorang selalu dipertimbangkan dan mengusahakan untuk membawa konsumsi yang semua orang dapat nikmati.
Sama dosen gw yang penampilannya persis kayak ayah
Eh kami juga mengunjungi salah satu desa di Bali untuk mengenal lebih dalam mengenai desa adat dan keberadaan Pecalang, nah ini baru seru. Budaya dan adat Bali itu termasuk yang masih kental dan kuat, ditambah ada usaha dari masyarakatnya untuk mempertahankan kebudayaannya tersebut. Bahkan dekan FISIP Udayana berujar bahwa salah satu penggerak pariwisata di Bali adalah desa-desa adat ini.

Para bli pecalangnya baik dan ramah, menerangkan dengan logat Bali yang kental mengenai konsep rumah adat di Bali dan tugas pokok serta fungsi dari pecalang. Menjadi pecalang itu hebat loh, sebuah pengabdian karena menjadi pecalang tidak digaji. 

Oh serunya lagi, kami boleh masuk Pura, kebetulan lagi ada acara sabung ayam, jadi rame dan saat berfoto dengan begonya gw berpikir "Berasa di Bali", haiyaaa emang lagi di Bali.
Kalau ditanya, mau ke Bali lagi gg Ti ? mauuu dong, tapi lain kali bergaya traveler atau nemenin Surilay cari spot diving boleh juga hhehhe. Karena seperti pemandu gw bilang, perjalanan kali ini tidak memuaskan, agar kami kembali lagi ke tanah dewata itu.
xxxChuu original by ra~ccon.

Today's Quote : "BALI ; BAnyak LIbur". Tulisan di Kaos

Hari ini, Setahun Yang Lalu ....

Tepat di hari ini, setahun yang lalu, gw sedang berada di ruang UGD RS Dr. Sardjito Yogyakarta, menahan sakit dan tangis. Saat itu ingin rasanya gw berteriak-teriak, tapi logika menenangkan gw untuk istigfar dan sabar serta berdoa yang terbaik untuk kondisi Upi, teman seperjalanan gw yang sejak masuk UGD entah berada dimana.

Gw udah berasa kayak robocop. Photo taken by Upi's left hand
Hari ini, setahun yang lalu, gw dan Upi sempat down mendengar vonis dokter, katanya kami gg akan sembuh dalam waktu dekat, butuh minimal dua tahun untuk kami sampai akhirnya bisa beraktifitas normal kembali. Dokter bilang kemungkinan gw akan seperti mengalami rasa sakit bahkan bisa infeksi.

Gipsnya belum menjadi dekil binti kumel. Photo taken by Tiara's left hand
Tapiii, hari ini, tepat setahun, kami tersenyum dan saling berjabat tangan, bersyukur akan kesembuhan kami. Upi mematahkan prediksi dokter, dalam jangka waktu kurang lebih 5 bulan setelah kejadian, dia malah ikut seleksi atlet untuk Ekspedisi Kilimanjaro daaaan berhasil terpilih menjadi salah satu atlet yang berangkat untuk mendaki sampai ke puncak Uhuru, Gunung Kilimanjaro di Benua Hitam sana.

Gw meskipun kadang kalau terkena dingin dan kecapaian masih merasa sakit, tapi sudah dirasa normal. Bahkan tiga bulan setelah kejadian, gw udah mampu dan berani bawa motor Demak - Semarang. Gw dan Upi membuktikan bahwa obat terbaik untuk suatu keadaan adalah berpikir positif, yakin dan tidak meratapi keadaan. Saat gw mengeluh merasa sakit, inilah jargon Upi "Diterima Ti rasa sakitnya, diikhlasin", yang gantian jadi jargon gw saat giliran Upi yang merasa sakit.

Hari ini, siang tadi, tangan gw tiba-tiba terasa sakit, lalu saat gw ingat bahwa hari ini, setahun yang lalu gw kecelakaan, sambil bercanda gw bilang ke Upi, "Mungkin si tangan ingat, tahun lalu ia mencium aspal".
xxxChuu original by ra~ccon

Merapi, The Big Brother

Aloha chacha maricha, gw balik lagi, jadi kemarin itu gw sempet meniatkan untuk kembali aktif menulis, tapi apa daya hhuhhu selama sebulan kemarin gw magang di Sekretariat DPRD Jawa Tengah, jadi yaah agak males-males gitu hhuhhu maafkan aku blogie.
Denah Jalur Pendakian Gunung Merapi
Okeee, jadi awal bulan Februari kemarin, tanggal 2 Februari 2013 gw ke Merapi. Awalnya sih anak-anak ngajakin ke Lawu, cuma karena dalam beberapa hari ke depan kami banyak agenda yaudah deh ke Merapi aja, selain deket, kami juga gg diharuskan untuk nge-camp. Gw langsung angkat tangan mau ikut, selain karena udah lama gg naek gunung juga karena pengen refreshing dari rutinitas kerja, cieeelaah hhahha tante-tante kantoran banget yak kayaknya.

Jam 10 malem, gw masih di PKM Joglo, langsung naik ke Tembalang sama Upi, ehlala di tanjakan Gombel motor gw mati, Upi juga muntah-muntah gara-gara maagnya kambuh, duh kami berdua berasa jadi adik kakak yang ditinggal ibu bapaklah, lusuh, sakit dan motor mogok, pantes dikasihani. Gw kira gg bakalan jadi tuh ya, tapi setelah minum obat, berangkatlah kita ke kostnya Taqwim. Sempet galau karena kurang motor, tapi akhirnya kami jadi berangkat bertujuh, gw, Upi, Icha, Doni, Syarif, Taqwim dan Coro. Berangkat sekitar jam setengah duaan dan tiba jam empatan pagi di Selo, Magelang.
Gunung Merbabu dari jalur pendakian Gunung Merapi, aslinya indaaah banget
Kami sampai itu pas adzan subuh berkumandang, tapi base camp-nya tutup jadi akhirnya kami lanjut naik deh. Eh baru sampai di gardu pandang yang ada tulisan macam Hollywood tapi tulisannya New Selo, kami malah galau mau naik sekarang atau enggak, soalnya kami semua ngantuk, yaudah deh tidur dulu disitu.
The Team
Nah jam enam satu persatu kami bangun daaaan saat membuka mata, waaah indah banget dah itu pemandangan. Gunung Merbabu jelas banget terlihat dan kayak lagi menatap hamparan karpet aja deh saking hijaunya, manalagi langit ceraaah banget, subhanallah sekali pemandangannya itu dan hal ini merupakan salah satu alasan kenapa kegiatan naik gunung bisa bikin rindu.
Meski bau parafin, enaak, enaaak.
Daaan kita pun mulai jalan, belum apa-apa udah lemes nih gw gara-gara lapar hhohho. Awalnya gw kira, gunung Merapi tuh udah jadi tandus gara-gara liat jalur lahar dinginnya yang isinya pasir, tapi nyatanya masih hijau dan banyak beri hutan sepanjang jalan.

Nah di suatu di tempat yang kami kira sebagai pos satu, kami istirahat deh dan buka perbekalan. Sialnya kami bawa Trangia tapi gg bawa spiritusnya buat bahan bakarnya, untungnya bawa parafin dah. Anak-anak kurang ajar lagi pada gg bawa logistik, jadi cuma gw sama Upi yang bawa makanan. gw pikir bakalan makan enak karena gw bawa sosis dan ayam, ehlala ternyata, mie empat bungkus aja dibagi bertujuh.

Nah sepanjang perjalanan ini kami berpapasan dengan rombongan bule dengan guide-nya. Merapi memang terkenal, Merapi juga salah satu gunung api teraktif di dunia kan kalau gg salah, jadi wajar aja banyak yang tertarik untuk melihat keindahannya.


Ternyata pos tempat tadi kita makan itu bukan pos satu, eerr banget, ternyata pos satu itu masih jauh banget di atas. Udah mana jalur pendakian Merapi itu nanjaaak terus, batu-batunya juga gede-gede, duh males banget dah, kok gg datar-datar aja gitu, enak ya klo gitu mah hhehhe. Nah pas di deket-deket pos tiga, kami ketemu rombongan dari Undip juga, ternyata temen-temennya senior gw, disana sempet ngobrol-ngobrol dan dikasih coklat hangat. Dapet info juga dari itu tempat ke puncak masih dua jam lagi, yaelah nangis dah gw.


Jadi karena kami juga agak buru-buru soalnya masih ada agenda di PKM, Syarif dari awal udah bilang kalau jam satu siang kami udah musti perjalanan turun, entah sampai mana pun kami dan gw pun udah males muncak karena lapeeeer, jadi di suatu tempat yang kayaknya namanya Watu Gajah, gw berhenti dan bilang kalau gw aja yang jaga barang, Upi berhenti di atas gw, cari posisi dan buka buku. Ditambah kabut turun tebal banget, makin males dah gw. Tapi setelah kabut agak menipis, gw dan Upi dipaksa sama Syarif untuk naik, dia bilang mana semangat kita yang dulu, tapi gw dan Upi tetap bergeming.

Akhirnya gg berapa lama, yang lain juga turun, selain karena kabut yang galau tebal menipis terus, hujan juga mulai turun. Setelah foto-foto, kami bergegas turun, tapi karena lapar, berhenti di pos dua untuk masak dan makan. Selanjutnya terus turun deh. Sampai di Basecamp, ramai sekali banyak yang mau naik. Oh ya sempat ada kejadian miskomunikasi biaya parkir dengan seorang ibu. Jadi kami membayar parkir sekaligus tiket masuk di warung, disitu kami sudah mendapatkan tiket, tapi sama ibu itu ditagih lagi dan setelah kami menjelaskan, kami malah dimarahi karena harusnya bayar di ibunya.


Well, selanjutnya kami langsung pulang ke Semarang. Ada satu hal menakjubkan yang gw lihat dalam perjalanan pulang, saat Merbabu menjulang seolah menghadang jalan kami. Gw berasa kecil dan tidak berdaya. Naik gunung itu bagi gw bukan sekedar kegiatan mendaki. Banyak hal yang bisa didapat. Tapi kalau ditanya, apakah gw suka naik gunung?, gw jawab enggak, naik gunung itu capek soalnya, tapi sebagaimana Upi bilang, naik gunung itu proses, puncak itu bonus dan pulang itu harus. Prosesnya itulah meski capeknya Janggut Merlin sekali, ada pemandangan yang cuma bisa dilihat kalau naik gunung, ada nikmat makan, ada segarnya mereguk air dari sungai dan terutama ada momen bersama orang-orang luar biasa. Oh ya ada pepatah di kalangan kami yang berbunyi, "Jika ingin melihat sifat asli seseorang, ajaklah naik gunung". sekali lagi, naik gunung itu capek, tapi terkadang rasa capek inilah yang membuat rindu.
xxxChuu original by ra~ccon

Posting Lama